Dulu sekali waktu saya masih anak-anak, dalam pada itu *** di suatu tempat yang berbeda *** ada orang gila *** ORGIL begitu *** namanya kang Sutris. Walaupun gila tetapi kang Sutris ini tidak seperti orang-orang gila pada umumnya, ia tetap mandi dan berpakaian bersih mengenakan celana panjang kolor warna hitam dan kaus oblong cap swan atau kaus oblong lain yang ada merk rokok, cengkeh, jamu, obat, cat, minyak kelapa dan sebagainya yang biasanya hasil pemberian dari toko-toko milik warga Tionghoa. Ia selalu mengenakan sandal japit dari karet ban, terkadang kalungan sarung motif kotak-kotak dan mengenakan songkok yang sudah pudar beludrunya, cara memakainya khas yaitu di blesekne dengan arah melintang. Didalam songkok itu ada bungkusan plastik yang di peniteni *** agar ndak jatuh *** katanya berupa jimat agar selalu sehat kuat tahan cuaca dan sakti mandraguna. Bener juga sih, kang Sutris ndak pernah nampak sakit, badanya tegap ototnya kuat, pertanda cukup makan dan banyak bergerak. Saya pernah dipanggul diatas pundaknya yang kokoh berpegangan telinganya yang legam, ia nampak senang sambil sedal sedul merokok tingwe nya, yaitu pas nonton sepakbola, karena badan saya kecil ndak keliatan depan, oleh Kang Sutris dipanggul.
Menurut orang-orang tidurnya di pasar yang berdekatan dengan terminal omprengan, ya benar, pasar itulah yang menjadi rumahnya dan tempatnya mendapatkan rejeki. Disitu ia tidur, menjemur pakaian dan mendapatkan makanan sehari-hari. Sedangkan untuk mandi di kanal *** kali buatan untuk irigasi *** disebelah pasar sapi *** padahal yang dijual ndak sapi thok, ada kerbau, kambing, ayam dan bebek, dan tempat mangkal agen Porkas judi resmi jaman dulu ***.
Sehari-harinya kang Sutris ndak perlu repot membeli makan, karena penjual makanan mulai dari yang ider sego pecel pincukan, bakso, rawon, sate, nasi goreng, es campur, angsle, toko-toko disekitar pasar, dengan sukarela memberi makan kepada kang Sutris kapan saja kang Sutris mampir. Bahkan sopir-sopir angkutan dengan sukarela membelikan tembakau dan kertas sek nya *** karena kang Sutris ndak mau merokok jadi, lebih suka tingwe alias ngelinting dhewe ***
Kenapa?, karena kang Sutris ini orangnya cepat kaki ringan tangan, disuruh apa saja bersedia, mulai dari mencuci mobil omprengan, membawa memikul barang dagangan, menggelar dagangan, sampai kukut dagangan, membersihkan lapak yang akan dipakai jualan, bersih-bersih emperan toko, ngangkut air bersih, nggotong kayu bakar, jaga parkiran di masjid, nuntun kerbau dan sapi sampai di pembeli atau penjual, dan nyebrangin anak sekolah. Dan anehnya kang Sutris tidak menerima bayaran berupa uang !. Itulah sebabnya kapan saja kang Sutris perlu makanan, baju, sabun tinggal meminta saja kepada siapa saja yang pernah minta jasa nya, aneh kan ?.
Tapi kalau pas galau, seharian tidak mau bekerja apa saja dan tidak mau makan, biasanya hanya berlangsung tiga hari. Siapapun ngomong apa saja ndak didengerin, dan tidak ada sepatah kata yang keluar dari bibirnya, senyum apalagi tawa yang sering di umbar *** namanya juga gila *** . Kegiatan selama galau itu biasanya hanya merokok tingwe, membaca koran majalah dan buku-buku bekas apapun yang ia kumpulkan. Oleh karena kang Sutris ini tidak buta huruf, maka nya kalau ditanya dan di dengerin *** istilah keren nya ditanggap *** segala macam pelajaran anak SD *** karena buku-buku bekas yang ia dapat dari sekolahan SD dekat pasar *** kromo inggil nya halus, baca tulis arab jago, huruf jawa oke, bahasa Tionghoa sedikit sedikit bisa. Berita politik yang lagi hangat *** contohnya perang Malvinas, perang Irak-Iran-Kwait, Korsel-Korut *** ia dapat menceritakan dengan jelas urut dan gamblang. Jadi sopir dan kenek di terminal, daripada capek-capek beli Koran dan nonton TV hitam putih yang gambarnya miring-miring kadang scroll di sudut terminal, malah lebih suka ndengerin ocehannya kang Sutris, soalnya kisahnya lebih runtut, kalau ada yang ndak jelas boleh nanya, jadi interaktif begitu, kalau jaman sekarang mirip-mirip show nya pak Golden Ways begitu. *** mung bedane dhekne kadung di cap miring ***
Nah itu tadi sisi positipnya kang Sutris, negatipnya juga ada dan bikin sebel banyak orang dan terkadang membuat marah aparat pemerintah. Pokoknya jangan sampai nemu cat *** apalagi warna merah *** , pewarna baju (wenter), spidol, arang, kapur, aspal, pelepah daun, atau apa saja yang dapat digunakan untuk menulis, paku besar untuk memahat kulit pohon, karena hobbynya kang Sutris ini corat coret menuliskan sesuatu apa saja di dinding kosong. Maka ndak heran kalau di rambu-rambu lalu lintas, gerbang masjid, sekolahan, rumah sakit, tempat sampah, plang papan nama mushola sekolahan dan kantor, petunjuk jalan, baliho misbar *** bioskop grimis bubar ***, spanduk, pohon besar, pagar batubata *** buk ***, jembatan, pintu kamar mandi umum, plengsengan kanal, tiang telpon, kaca mobil yang kotor, rolling door toko-toko, bahkan di cungkup-cungkup kuburan, drum yang di tengah perempatan, gapura desa, tugu makam pahlawan, portal, polisi tidur, semuanya tertera nama kang Sutris atau tulisan buah karya kang Sutris. Bahkan saya pernah menyeberang laut anakan ke sebuah pulau kecil, ada nama kang Sutris, di pintu masuk sebuah gua Jepang, terpampang nama kang Sutris. Saya pernah mencari belalang kayu di hutan jati, disalah satu pohon di persimpangan jalan setapak ada nama kang Sutris komplit dengan petunjuk arah. Disebuah batu hitam di tengah kali, tempat kami bersenda gurau sambil mandi dikali dan menjemur udang merah ada pahatan nama kang Sutris. Di kaki Jembatan yang tingginya sekitar 20 meteran ada nama kang Sutris. Di kandang kerbaunya lik Giman yang letaknya di pinggir hutan, ada tulisan kang Sutris dari kapur.
Tulisan itu dapat berupa puisi *** biasanya puisi cinta ndak tau ditujukan pada siapa ***, pernah saya lihat teks proklamasi, UUD 1945 dan pancasila, Dasa Darma Pramuka, ayat-ayat suci baik itu tulisan arab maupun terjemahannya; kutipan Alkitab; sepuluh perintah Allah; bisa juga pepatah peribahasa atau pitutur bahasa jawa *** misalnya tulisan OJO DUMEH by Kang Sutris di bunderan pertigaan yang bertahan bertahun-tahun lamanya***, potongan hadist riwayat Nabi; atau kisah pendek 25 Nabi, saya pernah gumun membaca kisah nabi Yunus di dinding pagar Puskesmas yang ditulis menggunakan ter *** aspal yang di cairkan dengan minyak tanah ***
Perhatian dan larangan ***biasanya di dinding dan pagar kosong ditulisi dilarang kencing disini kecuali apa begitu dibawahnya ditulis ttd. Kang Sutris di garis bawahi terus dibawahnya ditulis dibawahnya Direktur ***, perhatian dan larangan merokok *** seperti biasanya dikasih nama kang Sutris dan jabatan Direktur ***. Kadang-kadang tulisan kang Sutris cukup membantu orang luar daerah karena kang Sutris juga hobby menulis arah dan petunjuk jalan, baik itu di pohon, dinding yang mudah terlihat, gapura, jembatan dll, petunjuk arahnya sederhana misalnya: Warung Lik Yem 500 meter, Mushola Wak Dur km, Tokonya Tacik Nie Nie 400 meter, dan lain sebagainya.
Bisa juga nama-nama bintang film yang lagi tenar saat itu misalnya Merriam Bellina, Rico Tampaty, Lydia Kandou, Rano Karno, Benyamin S, disertai nama-nama film yang di bintangi. Bisa jadi tulisan George Bush dan Saddam Hussein bisa bikin ketawa nongol di palang rambu portal jembatan. Yang menjengkelkan pernah papan nama mushola diganti dengan tulisan Eva Arnaz, ya jelas pemilik mushola muring-muring. Tetapi yang paling banyak adalah namanya sendiri, kang Sutris, lha yang bikin ketawa kepingkal-pingkal, beberapa kuburan juga menjadi korban dan menjadi kuburan kang Sutris *** ha ha ha kalau ini edan bener ***
Hari berganti minggu berlalu bulan bergulir tahun berbeda angka, sekitar tahun 2011 ketika saya di tengah perjalanan mengembara dipertemukan dengan Kang Sutris tua yang dulu saya kenal ketika masih anak-anak *** di tempat lain yang sangat jauh beda propinsi *** di sebuah pondok di pinggir laut berpasir putih. Setelah sekian puluh tahun tidak berjumpa, ternyata ingatan kang Sutris cukup kuat, kumis uban dan perubahan wajah saya tidak mempengaruhi daya ingatnya, saya dipanggil Gus sambil memegang kepala saya sama seperti beberapa puluh tahun yang lalu dan dipeluk rapat-rapat, bau tingwe yang melekat di kaus putihnya nya terasa menyengat. Setelah pelukannya terlepas, saya meyakinkannya, Kang Sutris ingkang rumiyin crita Semar Gareng Petruk teng Mushola nggih, plek Sssttt.; mulut terkatup dibekap telunjuk tangannya. Gus, sampun nyeluk kula kang Sutris, ujarnya pelan sambil menengok kanan kiri. Teng mriki tiyang-tiyang nyebut kulo mbah Setra; Ooo. Mekaten kang eh mbah Setra, kami berdua bertatapan mata dengan tajam, ingatan saya melayang jauh di waktu yang silam. Plak! Eling Gus, pipi kiri saya di tempeleng ringan oleh kang Sutris alias mbah Setra, dan lalu kami berdua tertawa lepas karena sudah saling mengerti rahasianya masing-masing. Kang Sutris masih sama seperti yang dulu, mengenakan kaus putih celana kolor hitam, tapi sekarang songkok / kopiahnya nampak baru dan dipakai dengan benar. Sandalnya model japit tetapi dari kulit bukan karet ban. Sisa-sisa ketegapan badannya masih nampak di balik keriput kulitnya. Kulitnnya nampak lebih cerah dan terawat.
Agak lama kami berbincang, bernostalgia tentang pasar, terminal, sekolahan SD, jembatan, sungai, dan segala hal dimasa lampau, dan ketika saya berpamitan untuk melanjutkan perjalanan, ia segera berdiri tegap pandangannya kearah lautan, tangannya meletakkan dua buah buku diatas kepala saya, dan berucap; Sih Rahmat lan Tentrem Rahayu Sing Saka Gusti Allah Tumraha Marang Sliramu; saya terhenyak kaget dengan sepol-polnya bukan karena darimana asalnya dua buah buku itu diraihnya; tetapi karena dulu ketika saya akan melanjutkan sekolah di tempat yang agak jauh, juga pernah diberkati kang Sutris dengan cara ini; dan setelah itu kang Sutris seperti hilang ditelan bumi, jarene wong-wong ilang misterius, ada juga yang ngarang cerita katanya kang Sutris kena petrus *** saya kurang setuju waktu itu, mosok penembak misterius nangkep wong Edan ***. Tidak terasa mengalir air mata dan segera di usap oleh keriput tangan kang Sutris, wong lanang ora entuk nangis, ujarnya galak. Ingin tahu buku apakah itu, adalah sebuah Alquran - terjemahan dan Alkitab yang selalu dibawa dan dibaca bersama-sama.
Walaupun kang Sutris alias mbah Setra ini dulu pernah di cap wong edan, namun tidak semua orang *** termasuk saya *** melakukan apa yang di lakukan, yaitu mempelajari dan menghayati dua buah Kitab secara bersamaan.
Konon sekarang kang Sutris alias mbah Setra sudah mapan hidupnya, ia menunjuk ke atas sebuah rumah warna merah bata di tebing, beliau tinggal di rumah itu sendirian untuk berjaga-jaga, segala kebutuhan dan keperluannya dicukupi bahkan berlebihan bagi seorang kang Sutris, begitu ujarnya. Sebuah rumah anak angkatnya yang dikunjungi dua minggu sekali untuk berlibur. Sebelum saya meninggalkan sesuatu sudah keduluan ia berkata, Gus, aku tetep kang Sutris, ora usah menehi opo-opo marang aku, aku wis kecukupan kabeh, niatku memberi sesuatu kepada kang Sutris jadi tinggal harapan, karena beliau bisa marah besar kalau kata-katanya tidak didengarkan.
Di akhir pertemuan ia berpesan dengan mata tajam; Aja ketemu aku maneh nek durung duwe putu; saya kembali terhenyak kaget dengan sepol-polnya untuk yang kedua kalinya, karena dulu sebelum menghilang misterius setelah memberkati kepala saya juga mengucapkan hal yang sama; tetapi Aja ketemu aku maneh nek durung duwe anak.
Saya sudah menduga *** dulu ketika Sutris muda sering melakukan ini *** , tujuh langkah setelah meninggalkan kang Sutris alias mbah Setra, ketika saya tengok ke belakang beliau sudah tidak nampak. Saya kembali meneruskan perjalanan, meneruskan kehidupan.